Powered By Blogger

Senin, 05 Juni 2017

SAAT WAKTU MENATAPMU















"Lola! Tadi sudah kubilang, jangan ditambah garam lagi. Supnya jadi terasa aneh."

"Aku hanya membantu."

Umumnya seorang perempuan itu pintar memasak tapi tidak untuk Lola. Membedakan merica dengan ketumbar saja dia tidak bisa. Belum lagi antara garam dan gula halus, harus dicicipi dulu sebelum menaburi masakan. Mata Lola memperhatikan jemari Waktu yang cekatan mengambil wadah-wadah kecil tempat berbagai bumbu. Tidak ada nama pada wadah-wadah itu sebagai pembeda.

"Kau selalu memasak?"

Lola menanyakan hal yang seharusnya sudah tahu jawabannya. Kembali melirik gerak Waktu. Pria itu sudah menuangkan sup dari panci ke mangkok. Memberi sedikit bawang goreng, lalu mengangkatnya dan diletakkan di meja makan.

"Sejak Ibu sakit, ya aku masak sendiri."

Lola mengambil dua piring dan gelas yang disimpan di rak bawah. Mengitari ruangan mencari garpu dan sendok. Seingat Lola, kedua benda itu selalu tak berjauhan tempatnya dengan piring.

"Sendok dan garpu ada di meja makan."

Lola tersenyum kaku, berlari ke meja makan dan menempatkan piring serta gelas di atas taplak kecil di depan bangku meja makan. Melihat menu di meja membuat Lola mengedipkan matanya. Bibirnya melengkung ke atas. Menandakan dia sangat ingin segera melahap semua hidangan yang ada.

"Waktu!"

"Ada apa? Aku sedang mencuci panci."

"Kapan kita makan?"

"Saat kita sedang lapar."

Lola cemberut mendengar jawaban Waktu. Tidak bisa romantis, tidak bisa memberi jawaban yang bisa membuat hatinya bersemi bunga-bunga sepatu warna warni seperti di taman rumahnya. Lelaki paling kaku yang dia kenal selama ini. Bahkan makan malam spesial yang Waktu janjikan hanya diadakan di meja makan dapur rumah Ibu Waktu. Dan masakan olahan sendiri yang dibuat oleh Waktu sebagai menunya. Tanpa lilin, tanpa bunga Lily putih dan tanpa gaun.

"Duduklah, aku akan memanggil Ibu."

"Eh, kita tidak makan berdua?" Tanya Lola polos.

"Kamu lupa ini rumah siapa?"

Lola tidak keberatan jika makan malam dengan ibunya Waktu. Dia sudah terbiasa, tapi yang menjadi masalah adalah janji Waktu untuk dinner momen keberhasilan perusahaan mereka atas produk terbaru yang dilirik investor. Usaha Lola patut diapresiasi, dia menjadi model. Pertama kalinya, ujung rambut sampai ujung kaki tubuh Lola dirias habis-habisan. Rambutnya diurai, kacamata dilepas, bahunya tak tertutup, bentuk betis kakinya luar biasa. Alis Lola disulam, bulu mata ditambahi, pemerah bibir dioles dan satu lagi, hidung mancung Lola terlihat.

"Ibu sudah tidur, kita makan saja."

Waktu yang kembali dari lantai atas langsung duduk di kursi sebelah Lola. Menggunakan kaos putih polos berlengan pendek, celana masih sama saat pulang dari kantor tadi. Kacamata terlepas. Jam tangan disimpan. Muka polos Waktu menyihir mata Lola. Perempuan lugu itu memandang lekat wajah Waktu. Merekam begitu banyak sisi kepolosan Waktu yang sangat jarang terlihat. Cara Waktu mengambil nasi, sup, dan lauk. Cara Waktu memasukkan sendok untuk lahapan pertama. Cara Waktu berbicara, memandang dan menguyah. Sangat berbeda saat dia berada di tengah suasana perusahaan.

"Kenapa? Ada yang salah?"

Lola menggeleng, tangannya terulur mengambil nasi serta sedikit sup dan memotong paha ayam menjadi dua bagian.

"Kenapa paha ayamnya dipotong?" Tanya Waktu. Melihat gerik Lola yang kaku memberi ide untuk menjahilinya.

"Aku diet," jawab Lola cepat.

"Diet untuk?"

"Kesehatan," balas Lola.

Waktu sudah tidak punya rasa senang mengusili Lola lagi. Dia menghabiskan butiran nasi di piringnya. Berdoa sebentar, lalu berdiri membawa piring dan meletakkannya di wastafel.

"Makanlah yang banyak. Aku tidak suka perempuan kurus dan suka diet."

Satu hal yang membuat Lola jatuh cinta pada Waktu; kesederhanaan di balik kekuasaannya.


Picture by Google
Klaten, Desember 2016
 

Sabtu, 03 Juni 2017

BUKAN PERJAKA BATU










Oleh Nanik Haryanti
***

“Ismail!”
“Iya, Mak.”
“Kemarilah.Emak nak wasiatkan sesuatu.”

Mimpi itu datang lagi. Sudah lima tahun lebih. Wajah lemah Emak masih saja terbayang.Membentuk menjadi bunga tidur.Melepaskan rindu yang selama ini kupendam.Gurat keriput di sekitaran matanya masih terekam.Emak meminta menikahi anak teman pemecah batu yang dia temui satu minggu sebelum berpulang. Namanya Wening. Keturunan Jawa.

“Hari ini ada tinjauan dari departemen pendidikan.Tidak perlu risau dengan kunjungan mendadak ini.Beliau hanya melihat-lihat kondisi bangunan sekolah.Karena mungkin, sekolah kita terpilih sebagai penerima bantuan renovasi sekolah.”

Setelah kepergian Emak. Kuputuskan untuk merantau ke kota. Berbekal tabungan dan hasil menjual perhiasan simpanan Emak.Bertekad melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.Mengambil ilmu agama.Berharap, jika pulang ke kampung, bisa meneruskan perjuangan guru-guru agama di tempat menimba ilmu waktu sekolah dasar dulu.

Wasiat dari Emak tidak pernah bisa kulaksanakan.Pertemuan dengan Wening setelah sebulan kepergian Emak tidak menghasilkan apa-apa. Geming, meski rupa manis itu menyihir mata untuk takluk pada parasnya. Masih saja, hati menolak untuk memilikinya.Dulu, belum punya apa-apa.Ijasah sekolah menengah atas, tidak bisa menjamin rejeki yang kudapat bisa menyukupi kebutuhan hidup berumah tangga.Wening adalah pegawai kontrak sebuah perusahaan listrik negara.Ibu dan ayahnya pisah maut.Setelah berhasil menamatkan pendidikannya di Jawa, selama setahun dibiayai negara.Dia meminta ditempatkan di tanah Sumatra.Menemani masa tua ibunya.

“Tidak lelah jadi jejaka kau, Ismail?Teman-temanmu sudah naik pelaminan.Apa tidak ada rasa iri di hati?”
“Ada lah, Pak.”Aku berucap tegas meski tahu harapan tak lagi berpihak.
“Lalu?Sudah punya calon?Atau Bapak carikan?”

Orang paling disegani di sekolah ini memang memiliki riwayat berhati mulia.Sudah belasan bahkan puluhan murid-murid yang beliau jodohkan berhasil menapaki jalan perkenalan. Sudah puluhan cucu, beliau dapatkan dari menjodohkan bujang dan perawan dari berbagai kota. Tapi untukku, malu rasanya jika meminta dicarikan.

“Saya malu, gaji tak seberapa tapi meminta dicarikan belahan jiwa.Nak beli mahar darimana, Pak?”
“Gaji kau tiap bulan kan ada.Cukup untuk membeli cincin emas putih itu.Aku carikan istri yang kaya raya tapi imannya ada.”

Pria tua berkopiah itu tertawa.Beliau selalu paham, pertanyaan yang ada di pikiran.Menikah buatku bukan hanya menanggalkan status perjaka. Hidup sebatang kara, dengan gubug tua sebagai tempat lelap serta pelindung hujan dan panas. Genting pecah, jika hujan tadah ada di mana-mana.Lantai kayu lapuk belum bisa kuganti sejak kepergian Emak.Perabotan banyak yang kujual.Ingin sekali mengganti dinding-dinding reyot itu dengan batu bata pilihan.


Wening.Nama itu masih tumbuh di hati.Hampir setiap hari, kami bersua di jalan atau tempat dia menitipkan anaknya. Wajah manis itu tidak pernah berkurang. Teduh pandang dia saat menatap masih terekam.Aku teringat ucapan Emak.Jodoh itu dia yang telah diucap dalam ijab.Dia baik atau tidak.Saleh atau masih setengah-setengah.Semua butuh waktu untuk menjadi lebih baik.

Pernikahan Wening adalah sebuah penghianatan bagi perjuangan mendapatkannya.Aku tidak meminta untuk menunggu.Memantaskan diri untuk menebus maharnya.Tapi tetap, Tuhan tidak mengijinkan. Sakit, melihat dia disumpah dengan jabat tangan lelaki lain. Baraku padam tapi tidak untuk perasaan.Terluka tapi entah kenapa rasa iba itu ada.Sesaat terakhir sebelum pinangan itu dia terima. Selembar surat permintaan maaf, begitu juga hadiah perpisahan, sebuah buku membangun pendidikan di luar ibukota. Menjadi bukti perasaan yang kami miliki sama.

“Pak!Banjir di kelas dua, Pak!”Teriakan mengaburkan lamunan.

Semua sepatu diamankan di ruang kepala sekolah.Anak-anak berlarian, mengambil ember kosong atau panci untuk wadah air hujan. Kelas lain sibuk mengerjakan ulangan. Kelas dua dan tiga memang memiliki atap yang jauh dari kata layak.Kayu-kayu penyangga genting sudah banyak yang patah.Tidak pada tempatnya atau jatuh ketika angin datang.

“Jangan lari-lari!Masuklah ke kelas enam.Mereka sudah selesai mengerjakan soal.Jangan main hujan-hujanan!”




Anak kelas satu sampai kelas tiga berlarian ke gedung sebelah.Memang tahap renovasi masih berjalan. Uang renovasi, jatah dari dinas pendidikan tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan. Kesepakatan awal, bahan-bahan bangunan dibeli langsung, orang-orang suruhan dinas mengantarkan semen, batu sungai, batu bata merah, pasir, besi, dan kayu. Setelah proses pembangunan, bahan-bahan ternyata kurang. Sedangkan uang yang sudah digelontorkan fantastis, milyaran.Jika yang diminta memegang uang bantuan itu aku atau kepala sekolah.Pasti gedung bertingkat sudah kami buat.

“Bagaimana ini, Pak?Tidak mungkin kita terus mengandalkan uang bantuan.Sekiranya ada pun pasti selalu begini.Bangunan tidak lengkap dan laporan sudah harus siap.”
“Mau bagaimana lagi, Ismail.” Wajah teduhnya berhadapan dengan tetesan air yang mengisi ruangan, “minta lah guru lain menjaga anak-anak di kelasmu. Kita sama-sama meminggirkan meja dan kursi, mereka akan cepat lapuk jika tersiram air hujan.”

Lantai bersemen penuh air bergoyang.Celana ditekuk sampai lutut, memakai mantel dan tanpa alas kaki. Meja kelas ada lima belas, serta bangku, sekitar dua puluhan. Ada yang kursi untuk satu anak tapi ada juga kursi bersama.Menyelamatkan buku-buku paket pelajaran yang tersimpan di lemari kelas.Menutup lemari dengan plastik di atasnya.Kapur tulis dimasukkan ke tempat aman.Alat menulis untuk papan hitam itu sangat mahal di daerah ini. Harus ke kota.

Sungguh benar perkataan teman-teman  masa menempuh sarjana. Pemerintah jarang memperhatikan fasilitas pendidikan di daerah terpencil.Mudah saja membuat megah bangunan ibukota, itu sebagai tolak ukur keberhasilan pemerintah dalam memberikan perhatian.Tapi tidak ketika berjalan ke tanah yang jauh dari tempat semayamnya kursi-kursi penguasa.Jangankan bangunan, perhatian mereka selalu diluputkan dari ketidaktimpangan. Bahwa anak-anak kota lebih berharga dari desa.

“Tak perlu menggantungkan asa ke pemerintah.Terlalu berharga harga diri kita untuk merayu uang mereka.”

Ucapan itu seperti mantra saat langkah tersandung lalu jatuh.Lelaki yang abadi berbakti untuk pendidikan desa ini bernama Sutarso.Beliau keturunan Jawa.Ijazah sekolah guru yang dicecap semasa muda dulu, menjadi pegangan kala sarjana tak sanggup diajak kembali ke desa.Dulu, sekolah ini hanya memiliki tiga kelas.Papan dari bambu, bahkan jendela dibuat luas.Aku bersekolah dari kelas satu sampai tiga. Tak ada taman kanak-kanak di sini. Sekolah awal untuk belajar menulis hanyalah di mushola. Di sana, tempat untuk menghaturkan kewajiban lima kali sehari itu menjadi tempat ajar mula anak-anak mengenal huruf alphabet. Beriringan dengan menghapal hijaiyah.

Dan kini, mushola itu berubah menjadi tempat bisu.

“Ismail, kau memandang halaman atau bangunan seberang?”Pak Sutarso membuyarkan angan.“Kau ini,” nadanya terdengar bercanda, “istri orang jangan terus dipandang.”




“Tidak, Pak. Aku melihat bangunan di halaman sekolah kita,” tolakku.
“Itu hanya ada material batu, pasir dan bata yang sudah dua tahun menumpuk di sana.Bangunannya belum jadi.”
“Pak, bagaimana kalau kita meminjam uang dari bank?”
“Jaminannya apa?Harus ada agunan dan ini sekolah negeri bukan yayasan.”
“Surat tanah milik Emak masih ada, Pak. Dari pada bangunan itu hancur diguyur alam, lebih baik kita teruskan,” tuturku lirih menatap bangunan tegak tanpa atap, “jika diperbolehkan.Aku ingin menghabiskan masa tua untuk membangun pendidikan di tanah lahirku sendiri.”

Beliau menghembuskan napas panjang.Tak ada jawaban, tapi hati kami seperti bisa saling berbicara.Bisakah?“Aku tanyakan dulu ke beberapa orang.Dan melihat apakah kita bisa saling berbagi bantuan.Kau tak sendirian, Ismail.Tapi ingat pesan Bapak, jangan gegebah, urusan dengan bank itu tidak mudah.Ada angsuran bulanan dan kita tahu kondisi keuangan sekolah kita.”

Tidak ada perbincangan lebih setelah usulan itu kukeluarkan. Hari-hari sekolah tetap sama, saat terik atau hujan kami tetap berlarian mencari tempat teduh.

***
Langkah anak-anak bergerombol kecil di bawah teduh payung. Sesekali terhenti, menghindar dari cipratan sepeda motor atau mobil lewat. Mereka berteriak, berharap air lumpur tidak menempel diseragamnya.
Payung mereka bergoyang saat bersinggungan dengan angin.
Tidak ada rasa bosan, hari-hari selalu dibuntuti hujan.Sama seperti hatiku, yang tak pernah kering terendam kenangan. Ah, tidak, Wening hanyalah pelengkap cita. Di saat gejolak rasa memuncak, di kala rindu meminta diadu.Lambat laun rasa itu menghilang, tertelan kenyataan.
Berbekas tapi hanya sanggup terbingkai menjadi cerita.

“Apa benar sekolah akan memiliki kelas baru?” tanya anak berkucir kuda.
“Pak Ismail pernah berkata seperti itu.”Lembut suara murid kesayanganku terdengar dari sini, “beliau bilang, tahun baru kelas baru kita akan diberi atap.”

Semua perbincangan mereka tersengar dari sini.Gelak tawa, suara kecewa, candaan. Tanah ini tidak akan pernah kugadaikan atas nama modernisasi. Biarkan anak-anak itu berjalan, menyusuri tanah basah menuju sekolah.Lelapkan masa kecil mereka dengan kesederhanaan.Tutur mereka terlalu lugu untuk diajari Bahasa internasional.Kelak, anak-anak ini paham, negara butuh mereka sebagai pemundak; penyangga pondasi bangsa.Kaki lincah mereka mungkin sekarang tidak berjejak.Terhanyut lumpur, air hujan dan juga keterbatasan.Tapi setelah pola pikiran matang, lepaskan, karena bekal sudah digenggam.
“Indonesiaku memiliki banyak pejuang.”



===================================

Klaten, 02 Februari 2017 
Picture by Google

Rabu, 24 Mei 2017

BAPAK DALAM LEMARI





Pernah melihat sosok hantu yang berujud lengkap? Berdiri di depanmu, melihat ke arah mata, ia melotot, terdiam di sana, dan ia adalah sosok yang pernah kau lihat, mati. Tubuhnya terbalut kain kafan putih, tegak berdiri, sama seperti berdirinya gerakan sholat, tangannya tepat di atas dada, terikat tali putih, bercak tanah merah menodai kain yang seputih tulang itu.
==================== 

Dua tahun lalu, Nenek meninggal tanpa sebab. Ada yang bilang, Nenek menjadi tumbal oleh salah satu anggota keluarga yang mempunyai pesugihan. Aku ingin tidak percaya, keluarga besarku memang kaya. Rumah, tanah, sawah dan beberapa toko adalah bukti bahwa kami banyak harta sejak dulu. Buat apa pesugihan? Jika tanpa mereka pun, kita bisa kaya.

“Ada orang meninggal, Nduk,” ucap Ibu yang baru saja turun dari mobil.
“Siapa, Bu?”
Ibu menutup pagar halaman dan menguncinya. Membuka pintu garasi dan menyalakan lampu teras rumah.
“Itu, anaknya Pak Wibowo, meninggal karena kecelakaan tadi shubuh,” penjelasan Ibu membuatku merinding.

Aku kenal anaknya pak Wibowo, kakak kelasku di sekolah. Orangnya alim dan tidak banyak tingkah. Kecelakaan? Entah, sudah tiga kali ini dalam satu bulan, banyak orang meninggal di desaku, dan penyebabnya sama, kecelakaan di jalan.

“Emang, kecelakaan dimana, Bu?” tanyaku penasaran.
“Ayo, masuk dulu. Nanti dia denger, Ibu takut kalau ada apa-apa.”
Ibu menarikku  untuk masuk ke rumah, hari sudah senja. Keadaan desa semakin sunyi. Desus pencarian tumbal oleh seseorang yang mempunyai pesugihan masih menjadi misteri. Konon, mereka bertiga yang meninggal karena kecelakaan itu, mati di tempat yang sama. Pertigaan utara desa, yang dijaga oleh sosok yang tak nyata.

Mungkin benar jika isu pesugihan itu berkeliaran, buktinya desa ini sunyi setelah azan maghrib berkumandang. Senyap, tidak ada anak kecil yang berani bermain di luar halaman.  Pernah ada yang bilang, pesugihan itu berbentuk pocong dan terikat tali, tubuh mayat yang terbalut kain kafan putih. Semua orang membicarakannya, tapi tak satu pun dari mereka yang pernah melihatnya. Kecuali mereka yang pernah kecelakaan di tempat angker itu, rumah bagi si pesugihan.

“Tadi malam, di samping kamarku, aku mendengar ada seseorang yang lompatan bolak-balik, tepat di samping jendela. Mau nya ngintip dari celah jendela tapi aku kabur duluan, udah nyium bau itu sih,” bisik salah satu siswa di kantin.
Di sekolah pun, semua siswa membicarakan hal yang sama. Isu-isu tak jelas semakin membuatku ketakutan, bahkan kegiatan sekolah hanya boleh diadakan sampai jam empat sore.
“Kemarin, Mbahku melihat sosok pesugihan itu,” celetuk teman sebangku.
“Bagaimana rupanya?” tanyaku penasaran.
“Laki-laki, tinggi dan bermuka hitam,” jawabnya.
Semakin merinding aku mendengar penjelasannya. Bagaimana tidak? Setiap hari aku harus melewati jalan yang dianggap rumah oleh pesugihan itu. Jika melewati pertigaan itu, aku mencium bau aneh. Entah bau kembang atau sekedar bau yang tak sedap. Dan anehnya, setiap hari pasti ada sebaran bunga  mawar di jalan itu. Bukankah ini syirik?

Hari minggu ini sangat sepi, ba’da shubuh biasanya akan ada kajian di Mushola Ar Rahman. Tapi sampai jam enam pagi, tidak ada satupun orang di sini. Mushola ini terletak di pinggir desa, jauh dari keramaian. Memang hebat, efek dari desus yang beredar, bahkan sampai para jama’ah enggan pergi ke mushola.
“Pagi-pagi sudah di sini, La?” tanya kawan.
“Aku ingin ikut kajian ba’da shubuh tadi, tapi kenapa sepi, Rum?” tanyaku balik.
Rumi menarikku pergi dari halaman mushola. Dia memintaku untuk naik sepeda motor yang ia bawa. Raut wajahnya sedikit ketakutan.
“Kamu tahu gak, La, kenapa mushola jadi sepi?”
“Gak tahu, Rum, aku sudah lama tidak sholat di mushola,” jawabku.
“Kemarin malam, pesugihan itu mondar-mandir di halaman masjid. Sekitar jam satu pagi, kata orang, itu karena lampu mushola dihidupkan. Jadi setelah kejadian itu, semua warga desa tidak menyalakan lampu, dan para bapak melakukan ronda di rumah mereka masing-masing.”
Ya Tuhan, apa sosok yang bernama pocong itu sangat menakutkan? Dia kan hanya setan, yang Allah derajatnya lebih rendah dari manusia, bukan untuk di takuti tapi di lawan. Jika benar pocong itu mampu membunuh orang, apa bedanya dengan manusia?

Aku melihat Ibu merapikan beberapa lembar pakaian, terlipat rapi dan di masukkan ke dalam tas besar. Sepertinya Ibu sedikit terburu-buru, baju tidur masih terpasang dibadannya.
“Ibu, mau pergi?” tanyaku setelah Rumi mengantarkan sampai rumah.
“Kakek sakit, Nduk, Ibu harus ke sana untuk jenguk, kamu mau ikut?”
“Aku siap-siap sebentar,” ucapku sambil berlari ke kamar sebelah.

Kakek memang sakit sudah lama, hampir setahun ini Beliau sakit tua yang tak kunjung reda. Hampir setiap minggu check up ke Dokter, mengganti perban yang melilit kaki kanannya.
“Apa Kakek akan di opname, Bu?”
“Ibu tidak tahu, Nduk, tadi Bulek memberitahu kalau keadaan Kakek gak baik,” jawab Ibu.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, melewati rumah si pesugihan yang nampak kosong tak bertuan.

Tubuh Kakek hanya bisa terbaring, jarum infus menemani di titik nadinya. Semua keluarga berkumpul, kecuali Paman yang masih dalam perjalanan dari Surabaya. Rumah Kakek memang terkesan seram, lukisan dan berbagai barang Jawa ada di rumah ini.
“Nduk … tolong ambilkan baju Kakek yang ada di lemari kamar paling pojok, lemari yang berwarna coklat tua,” pinta Budhe.
“Tapi …,” tolakku
“Sudah cepat! Kakek tidak boleh memakai baju yang lain kecuali dari lemari itu.”
Aku bingung, bukannya semua baju sama. Entah di simpan dalam lemari manapun.

Kamar Kakek seperti tidak diurus, banyak debu dan terasa janggal. Aku tidak pernah memasuki kamar ini selama aku hidup, tidak boleh.
“Lemari warna coklat tua,” gumamku
Banyak lemari di sini, hampir ada empat, dan warnanya coklat semua. Lampu kamar mati, dan cahaya tidak cukup untuk membedakan mana yang lemari berwarna coklat tua.
“Mungkin ini,” gumamku lagi

Aku membuka lemari tua berwarna coklat ini, bulu kudukku berdiri, tertangkap di indera pendengaran bunyi-bunyi yang aneh, bisikan. Bau tak sedap mulai merasuk hidung, menuntutku untuk menahan napas.
Mata mulai menangkap benda yang tersimpan di lemari tua ini. Sisi kanan, yang di tutup oleh kain putih. Aku merasa penasaran, di satu sisi lemari berisi tumpukan benda kuno milik Kakek. Dan di sisi satunya tertutup kain penghalang ini.
Aku memberanikan diri, rasa penasaran penuh menguasai. Jemariku gemetar, bibirku mengucap tujuh ayat Al Fatihah, spontan saat aku merasa ketakutan.
Tabir terungkap, sosok putih tepat berada di depanku, matanya terbuka, wajah hitam dan penuh tanah. Terbalut kain kafan, dia memandangku dalam diam, tubuhku tidak mau pergi, sama dengan dirinya, diam dan saling memandang.
Sosok yang tinggi, apakah dia hidup? Aku memberanikan jemari untuk menyentuh. Semua tali yang melingkar di tubuhnya masih rapi, hanya noda tanah merah yang menghiasi kain yang menutup jasadnya. Aku pandang dalam diam wajahnya, matanya terbuka tapi mati, tak ada sinar kehidupan.
Aku mengenal wajah ini, lima tahun lalu saat terakhir sosok itu pergi. Sama, tak ada yang berbeda dengan wajah yang aku lihat sekarang. Meskipun, wajah yang aku lihat ternoda hitam. Aku mengumpulkan momen itu kembali, di saat terakhir kali aku melihatnya dalam liang lahat.

“Bapak,” lirihku.

Purwokerto, 08 Mei 2016