Powered By Blogger

Senin, 28 Agustus 2017

CV TA'ARUF













Bismillahirrohmannirrohim

BIODATA DIRI PRIBADI


Nama Lengkap :
Nama Panggilan :
Email :
Facebook :
Twitter :
Blog :
Gmail :
TTL :
Suku :
Alamat asal :
Alamat domisili :
Nomor Handphone :
Pekerjaan :
Ciri Fisik :
1. Berat badan :
2. Tinggi badan :
3. Warna kulit :
4. Berkacamata :

Riwayat Pendidikan :
1. SD : ........................... lulus tahun
2. SMP : ....................... lulus tahun
3. SMA : ....................... lulus tahun
4. PT : ........................... lulus tahun

Riwayat Pekerjaan :
Riwayat Organisasi :
Penyakit yang pernah di derita :

Data Ayah :
1. Nama Ayah :
2. Agama :
3. Organisasi :
4. Pekerjaan :
5. Alamat :
6. Sikap terhadap dakwah :
7. Data saudara ayah :

Data Ibu :
1. Nama Ibu :
2. Agama :
3. Organisasi :
4. Pekerjaan :
5. Alamat :
6. Sikap terhadap dakwah :
7. Data saudara ibu :

Data saudara :

Izin untuk menikah :



SEJENAK TENTANG DIRIKU


1. Kriteria calon suami/istri yang sangat saya harapkan :

2. Karakter dan kepribadian diri

a. Pendapat dari beberapa teman dan sahabat:

b. Menurut diri saya pribadi:

3. Catatan aktifitas dakwah

4. Rencana Masa depan

- Penataan ekonomi :

- Pilihan pekerjaan :

- Tempat tinggal :

- Proyeksi dakwah :


5. Deskripsi keluarga :

- Dari keluarga ayah :

- Dari keluarga ibu :

TENTANG AKU …

………………………………… abcdegfghijklm







Ini contoh cv ta'aruf, tidak harus sama persis. Karena contoh dari Murobbi sudah saya rombak sesuai kebutuhan saya sendiri. Tapi bisa dijadikan contoh dalam memulai sebuah niat.



Klaten, 21 Juni 2016

ALTAR PERJANJIAN



Aku melihat pantulanku di cermin. Riasan wajah tak ada cela; bibir, alis, bulu mata, kelopak, pipi dihias dengan warna selaras kulit muka. Rambut yang digulung rapi, membentuk sebuah sudut di bagian belakang untuk meletakkan hiasan kecil. Sengaja, merapikan seluruh helai, agar sempurna masuk ke dalam gulungan. Kalung terpasang, dengan mata tetes embun. Gaun putih dirapikan ulang. Bahu terlihat jelas. Menggiurkan, kata seseorang. Disematkan sepasang anting antik ke telinga kanan dan kiri. Memutar badan, melihat bagian belakang gaun. Tercetak sempurna. Bidadari surga pun, mungkin cemburu dengan kecantikanku pagi ini.

Ada yang mengetuk pintu. Memberi kabar bahwa semua sudah siap. Aku mulai gugup. Rasa membuncah di dada semakin tidak tertahan. Untuk pertama kalinya, berada di depan banyak orang. Bukankah ini momen bahagia? Aku akan bertemu dengannya. Merajut sebuah kisah yang abadi. Perjalanan dua insan, memendam kerinduan yang lama tertahan dalam penantian.

Melewati lorong. Aku mendengar bisik-bisik tentang acara hari ini. Bunga-bunga putih sengaja dipasang, menyambut kedatangan keluarga. Memang itu permintaanku. Pintu altar dibuka. Orang-orang diam. Kutatap altar, Bapa ada di sana. Di belakangnya, patung Yesus tertunduk dalam acara pengorbanan. Gelas-gelas perak dan emas tertata rapi. Lilin-lilin menyala, padahal ini pagi.

Aku berhenti sebentar. Ada yang memelukku, dia terisak. Mungkin terharu, karena hari ini hari bahagia. Aku melihat wajah Bunda Maria di sebelah sudut kanan gereja. Teduh, ingin sekali memiliki raut sekasih Bunda.

Hening, dingin mulai merayapi tubuh. Sekarang, aku tepat berada di altar. Di depan tempat Bapa berdiri. Kedua bola mata birunya basah. Apakah Bapa juga terharu?

“Semua akan kembali ke pangkuan Sang Kasih. Sekarang atau nanti, kita adalah umat-Nya yang dikasihi.”

Nyanyian melantun syahdu. Mendung mulai kurasa. Semakin gelap. Aku merasakan ketenangan. Suara-suara tangisan itu, menjadi doa untukku. Kekasih, kita bangun sebuah istana di surga-Nya. Aku mengikutimu. Berkumpul kembali dalam ladang kasih-Nya.

Klaten, 14 November 2016

Kamis, 20 Juli 2017

AIR MATA ROSULULLOH












Diriwayatkan dari Anas ra,” Rosululloh SAW bersabda, tidaklah seorang muslim, saat kematian tiga anaknya yang belum baligh, kecuali Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga berkat kasih sayang-Nya kepada anak-anaknya tersebut.” (H.R. Bukhori Muslim)
                                                               ***
Anak adalah titipan. Mereka juga bukti  kasih sayang Allah untuk hamba-Nya. Anak juga merupakan sebuah ujian. Yang kelak akan menjadi tanggungan di hari perhitungan nanti. Kehilangan bukanlah hal yang diinginkan dari setiap makhluk yang bernama manusia. Allah sudah menetapkan takdir setiap hamba yang Dia kehendaki. Semua sudah tercatat sempurna di Lauhul Mahfudz.
Wajah Parjiyem terlihat sayu, tetesan air matanya sudah tidak terhitung lagi.Tidak terisak, diam menatap sebujur tubuh kaku yang terbaring di atas meja.Orang-orang yang berada di ruangan itu melafalkan ayat-ayat Yasin, mereka saling menunduk terdiam. Sedangkan yang lain sibuk merenda hiasan untuk rumah terakhir anak Parjiyem, bayi yang belum genap satu tahun itu.
Para tetangga tahu, mereka tidak bisa berbuat apapun.Bahkan menghibur.Mereka datang, duduk disamping Parjiyem dan mengulas senyum.Ada yang menangis terisak, tidak tega dengan takdir yang menimpa tetangga baik mereka.Kehilangan putra untuk yang ketiga kalinya.
“Sabar ya, Par.Aku ora isoh ngomong opo-opo. Sabar … Lek Par,” ucap seorang pelayat yang sedang memeluk Parjiyem.
Terkulai duduk lemas menatap tubuh kaku putra keempatnya.Matanya kosong, bibirnya terkunci.Sapaan takziah dari para pelayat pun dia abaikan.
Sedangkan sang suami terlihat tegar, dari luar. Batinnya juga tersayat perih. Mengalami ujian yang sama untuk ketiga kalinya. Kehilangan sosok buah hati yang kelak bisa ia pandang di masa depan. Supadi sibuk menyalami pelayat pria. Dan terkadang berjalan kesana kemari, menengok sang istri yang terlihat tak berdaya.
“Gusti Allah pengen kowe mulyo ning surgo, Padi,” ujar salah satu pelayat yang sedang memeluk Supadi erat, ”InshaAllah, mereka sudah meminta rumah kepada Allah untuk kalian.”
Supadi hanya menjawab dengan senyuman.Tidak bisa berkata apapun lagi.Goresan luka yang dia rasakan sebagai seorang suami sekaligus ayah bagi keempat putranya semakin menganga. Putra pertama, gadis kecil yang saat itu baru memasuki umur lima tahun, meninggal karena demam tinggi. Putra kedua, yang masih tersimpan aman di dalam kandungan, telah diminta oleh Pemiliknya sebelum dilahirkan. Putra keempat, bayi yang belum dikuburkan, meninggal dalam usia yang belum genap satu tahun, lahir saat Ramadhan dan meninggal sepuluh hari sebelum satu Syawal.
Tangis dan duka mereka, tercatat sebagai penghilang rasa panas saat hari kiamat nanti.Tinggalah putra keempat mereka, Slamet Rahayu.Yang Allah titipkan kepada Supadi dan Parjiyem. Sebagai pelipur lara dalam mengarungi kehidupan.
***
“Ini dibaca apa, Le?”
Tanya Parjiyem sedikit membentak saat mengajari Slamet belajar membaca.Slamet sudah kelas tiga sekolah dasar.Tapi belum mampu membaca ataupun menulis.Entah, orang tuanya juga bingung.Saat Taman Kanak-kanak, Slamet terlihat biasa dan normal.Tapi setelah memasuki bangku sekolah dasar, tidak ada satupun pelajaran yang dia ingat.Membaca angka pun, Slamet tidak bisa.
Sulit untuk menjelaskan keadaan yang terjadi pada Slamet.Kedua orang tuanya bukanlah orang yang mengeyam pendidikan tinggi. Sebatas Sekolah Dasar, niat mengarungi kehidupan berkeluarga untuk mencari keberkahan. Mendidik anak semata wayang, menjadi penghibur saat usia senja.

Hingga Slamet duduk di kelas lima Sekolah Dasar. Tidak ada satupun kata yang bisa ia rangkai di atas kertas. Sang Guru memindahkan Slamet ke kelas yang lebih tinggi, hanya karena rasa segan dan kasihan. Takut membayangkan cemoohan para tetangga atas apa yang dialami oleh buah hati Supadi dan Parjiyem.Ketidak mampuan dalam mengikuti pelajaran, adalah bukti kegagalan dari didikan orang tua.
“Gimana kamu besar nanti, Le, kalau nulis sama baca saja tidak bisa!”Supadi sudah hilang kesabaran dalam menghadapi kekurangan anak semata wayangnya. Bahkan untuk meniru tulisan yang ada di lembaran buku tugas sekolah saja, Slamet sama sekali tidak mampu.
Slamet hanya diam, dia tahu sang ayah marah. Tapi entah, setiap kali sang ayah emosi, Slamet sama sekali tidak berani menatap wajah sang pelindungnya. Dia memilih untuk menunduk, sama sekali tidak tahu, kenapa harus pintar membaca dan menulis. Dalam dunianya, dunia suka bermain. Menghabiskan waktu dengan sepeda atau bermain dengan anak-anak yang lain.
Seluruh keluarga besar dikumpulkan, membahas nasib cucu laki-laki satu-satunya dalam keturunan mereka.Ya, Slamet Rahayu adalah satu-satunya cucu laki-laki di keluarga besar Supadi.Cucu yang sangat diandalkan. Tapi Tuhan mempunyai rencana lain, Slamet berbeda, dia istimewa.
“Aku ingin menyarankan sesuatu, Lek,” ujar sang ponakan, Nanik. Cucu tertua di keluarga mereka.
“Kemarin, aku meminta saran ke semua teman di kampus.Maaf, sebelumnya aku tidak meminta ijin dulu ke keluarga.Ini masalah yang tidak bisa dianggap remeh, Lek.Slamet memiliki keistimewaan. Dia berbeda, dan kita juga harus memiliki cara yang tidak sama dalam mendidiknya.”
Nanik berusaha untuk menjelaskan keadaan putra Supadi ke semua anggota keluarga.Berat, menerima kekurangan salah satu anggota keluarga mereka.
“Jadi, maksudmu, Slamet ini idiot?” tanya salah satu anggota keluarga.
Nanik tidak lantas menjawab, dia tidak sampai hati untuk menyandangkan nama ‘idiot’ kepada adik laki-lakinya.
“Slamet hanya berbeda, dia bukan seperti itu,” jawab Nanik, melihat ke arah sang adik laki-laki semata wayangnya. Yang dari tadi tidak berani mengangkat muka.
“Slamet istimewa, dia adalah hadiah dari Allah untuk melengkapi kesabaran dalam keluarga kita.”
Masalah demi masalah datang tanpa henti, hanya berjarak satu tahun setelah keluarga menerima keadaan Slamet, satu demi satu anggota tertua dalam keluarga Supadi kembali ke pangkuan Illahi. Ayah dari Supadi, meninggal dalam masa tuanya,sedangkan sang mertua perempuan, ibu dari Parjiyem istrinya, juga mendadak pergi untuk selamanya. Inilah ujian yang membuat Parjiyem rubuh, kekuatan yang ia bangun selama ini ikut lebur bersama jasad sang Ibunda.
“Apa salahku, Mas?” tanya sang istri kepada Supadi.
Ujian tanpa henti terus mengikis dinding kesabarannya.Kematian serta kehilangan selalu menjadi nyanyian dalam mengarungi kehidupan mereka.
“Mungkin Allah benar-benar menyayangi kita, Par.” Sang suami berusaha tegar di depan sang istri.
Berusaha sebenarnya, tersenyum disaat kondisi sang istri benar-benar jatuh. Menata kembali pecahan senyuman yang dulu mereka rencanakan saat mengawali mahligai pernikahan. Allah, tidak akan membebani sebuah takdir yang mana akan memberatkan hamba-Nya.
Keluarga mereka, mulai berbenah kembali. Pernikahan selama dua puluh lima tahun, kehilangan tiga buah hati mereka, menerima dengan lapang anak istimewa yang Allah titipkan. Ikhlas dengan kehilangan, mengobati luka di hati dengan berbagi senyuman.Merasakan kuatnya ikatan persaudaraan, menyambung kembali ikatan kebahagiaan dengan sabar. Bahwa selama hidup di dunia, ujian akan selalu datang menerpa. Tidak mengenal waktu atau usia.
Slamet Rahayu sudah terbiasa sekolah di Sekolah Luar Biasa.Sekolah dengan sistem pembelajaran khusus bagi anak-anak yang telah Allah istimewakan.Meskipun jauh, Slamet terbiasa berangkat dan pulang dengan menaiki sepeda. Risau sebenarnya, hati kedua orang tua Slamet jika sang anak berangkat dengan sepeda sendiri. Jaraknya jauh, sekitar sepuluh kilometer.
“Mak, besok aku ikut lomba lari jarak jauh,” cerita Slamet kepada Ibunya.
Setiap anak memiliki keistimewaan yang berbeda-beda. Tidak ada yang sama, meskipun lahir dari satu rahim. Allah sudah menetapkan, semua terperinci dalam kitab Lauhul Mahfudz-Nya.Tertata, manusia sudah disiapkan skenario hidup terbaik.Allah adalah Sang Sutradara.Takdir mampu diubah, jika manusia juga mau berubah.
“Wah, Slamet sudah SMP sekarang?” tanya Bulek Welas, adik dari Supadi yang baru datang dari Semarang.
“Iyo, lek.” jawab Slamet, “Oh, yo Lek, kemarin aku menang juara lomba lari jarak jauh, ini hadiahnya.”
Slamet menunjukkan sebuah piagam dan kalung yang sangat ia banggakan. Kemenangan pertama dalam hidupnya, bisa memberi rasa bangga untuk ibunda tercinta.Tentu bukan kebanggaan dalam akademik.Mengingat sampai sekarang buah hati mereka tidak mampu melafalkan satu pun huruf yang tertulis di buku.
“Hebat, kamu Le, sini Bulek kasih hadiah.”
Pemberian hadiah untuk sebuah keberhasilan meskipun kecil adalah cara terbaik menunjukkan rasa bangga. Perhatian dan kasih sayang, sangat diperlukan dalam menambal goresan kesedihan yang telah terjadi.Hidup adalah tempatnya ujian.Tapi tali kekeluargaan tetap di utamakan.
“Met, Adzan ….”
Slamet bergegas beranjak dari depan televisi untuk pergi ke masjid. Keistimewaan tidak mengurangi caranya dalam menjemput panggilan Kalam. Ilmu sekolah mungkin tidak akan pernah ia dapatkan, tapi Allah memberi kemudahan dalam mengarungi indahnya meniti keta’atan dalam kekurangan.
Semua anak istimewa. Meskipun ia terlahir dan diberi rupa yang berbeda.
***

Klaten, di kursi penunggu senja 
Pic; by google

Selasa, 13 Juni 2017

PRIA BERDASI KUPU-KUPU










Semua rakyat memakai pakaian terbaik mereka. Kain berwarna warni dipasang di setiap pintu. Sebagai hiasan sekaligus tolak bala hujan. Para perawan sibuk menata hiasan di mahkota kepala. Tidak boleh diikat, harus diurai dan ditata supaya terlihat berbeda dari hari biasa. Gaun-gaun mereka juga harus satu warna, putih tulang. Setahun sekali, perawan-perawan di negara ini diijinkan untuk berhias. Menampilkan wajah ayu serta tubuh molek mereka di hadapan lelaki. Sedangkan untuk mereka yang sudah berkeluarga, harus memakai baju seragam. Ayah, Ibu dan anak-anak harus memakai pakaian dari kain yang sama. Dan harus berbeda dari keluarga lainnya.

Untuk lelaki bujang, diwajibkan memasang dasi pada leher-leher mereka. Dengan jas hitam dan kemeja putih. Celana dan sepatu berwarna hitam. Dasi kupu-kupu, tidak boleh yang lain karena kupu-kupu memiliki artian setia. Rambut mereka disisir ke sebelah kanan. Bagi yang memiliki rambut bergelombang, botak dan kekurangan helaian rambut, diharuskan memakai topi bundar berwarna hitam. Laki-laki dilarang menyesap cerutu pada acara ini. Hari terakhir mereka berkelana, setelah acara ini mungkin saja satu gadis bisa mereka dapatkan dan membuat kerajaan kecil bersama.

"Bapa ... Bapa ... Chermis sangat cantik memakai gaun itu. Ada hiasan naga di rambutnya."

Gadis kecil itu berlari menyambut kedatangan ayah angkatnya. Sebagai putri angkat, dia diperbolehkan memakai baju pemberian Ratu yang setiap tahun memang dikirimkan dari kerajaan. Ratu negara ini memang baik hati. Anak-anak tanpa orang tua adalah tanggung jawabnya. Gaun-gaun kecil itu dijahit oleh penjahit kerajaan. Ukuran-ukuran mereka akan diambil oleh petugas kerajaan sebulan sebelum acara besar ini. "Itu bukan naga. Itu helaian yang dibagi menjadi tiga lalu ditata sehingga seperti mengait satu sama lain. Jika rambut Lily sudah panjang. Besok dikepang seperti itu."

Biarawati menjelaskan ke Lily alasan rambut Chermis dihias sedemikian rupa, "Kamu ingat, gereja kita kedatangan kuda pangeran beberapa bulan lalu?"

Lily mengangguk, "iya, juga kedatangan sang Ratu. Barang-barang berlapis kuning dan puluhan buku tebal-tebal."

Biarawati tersenyum, jemarinya mengelus halus pipi sebelah kiri Lily. Mengucapkan doa lirih, meminta Lily untuk mengaminkan. "Rumah kita memiliki seorang calon ratu negeri ini."

Lily berlari, menyusuri lorong bangunan gereja, melihat banyak hiasan bunga mawar merah di sepanjang perjalanannya membuat dia seperti berjalan di taman bunga. Kamar Chermis ada di sudut lorong. Pasti sekarang dia gugup.

Pintu diketuk, Lily membuka kenop lalu melangkahkan kakinya ke ruangan Chermis. Sepi, bahkan para penata rias sudah tidak ada di kamar Chermis. Kamar Chermis sudah rapi, bahkan ranjang sudah tak berselimut lagi. Lily berteriak memanggil nama Chermis. Apakah dia sudah keluar? Batin Lily.

===============

Arak-arakan di jalan semakin ramai. Botol-botol anggur berserakan di jalan. Perempuan-perempuan bergaun putih tulang sudah memasuki ruangan. Tinggallah laki-laki di luar, mempersiapkan semua senjatanya untuk pertunjukan malam ini. Jika memuaskan, berarti dia, perempuan itu adalah calon ratu kerajaan kecilnya. Jika tidak, masih ada tahun depan untuk mencari pasangan yang layak diajak menaiki tahta ratu kerajaan kecilnya.

Perempuan itu gugup, remasan jemarinya berkeringat. Dia baru pertama kali mengikuti acara pencarian seperti ini. Dia cantik, bibir mungil, mata bundar, hidung bangir, rambut hitam panjang. Kekurangannya hanya satu, dia penakut. Tiba-tiba pintu diketuk, kenop terputar. Jantungnya berdegub tak karuan. Laki-laki tinggi masuk lalu memutar kunci tiga kali. Membuka jas dan sepatunya, meletakkannya di sisi pintu. Ruangan itu hanya kecil, satu ranjang, satu kursi sudut dan meja hias kecil, juga kamar mandi mungil.

"Aku lelah, setelah undian ternyata aku mendapat kamar yang sangat jauh."

Laki-laki itu duduk dan menyandarkan kepalanya di bantalan kursi. Memejamkan mata sejenak, lalu melirik ke arah perempuan itu berdiri. "Baru pertama kali?"

Perempuan itu mengangguk, melihat ke wajah si laki-laki. Tampan, batinnya.

"Aku bosan mengikuti acara tahunan kerajaan, dan ini menyesatkan."

"Kau tidak setia pada kerajaan?"

"Setia pada kerajaan tidak harus dibuktikan mengikuti kegiatan yang bodoh seperti ini."

Perempuan itu memberanikan diri duduk di tepi ranjang. Melepaskan sepatu sempitnya lalu mengurut betisnya sebentar. "Aku juga berpikiran sama, kita seperti dipermainkan. Disentuh, jika tidak puas ditinggalkan."

"Bahkan calon istri dari putra Sang Raja permainannya memalukan. Dia cantik tapi tak layak dijadikan ratu."

Laki-laki itu tertawa, kembali memejamkan mata. Membayangkan kembali saat pertama kali menyentuh seorang perempuan, "aku akan menikahimu. Aku bosan berburu."

"Apa maksudmu?"

"Kau perawan, kan?" Perempuan itu diam. Kembali memandang gerak bibir lelaki yang duduk di kursi. "Meskipun aku sudah merasakan semua jenis wanita. Aku tidak ingin ratuku pernah disentuh oleh pria lain sebelumnya. Mencari gadis perawan di negeri ini seperti mencari permata di lahar gunung berapi."

Mereka menghabiskan malam dengan bercerita. Menunggu pagi untuk menjemput takdir baru. Laki-laki itu tertidur di kursi. Perempuan muda dan cantik itu mempersilakan pengawal istana masuk ke kamarnya saat subuh belum tiba.

"Sampaikan surat itu ke Ayahanda, aku sudah menemukan calon raja baru negeri ini."


Kerajaan akan dia ubah. Vecia membenci ibunya. Acara-acara seperti ini adalah proses persembahan sang Ratu untuk iblis kecantikannya. Bersama dengan laki-laki yang sebentar lagi menjadi suaminya dan hidup di istana negeri. Dia akan mematahkan perjanjian sang Ratu. Dan membawa negeri ini kembali ke tangan sang ayah, Raja Negeri Dongeng.

Klaten, 7 Desember 2016
Picture by Google

Senin, 12 Juni 2017

Ketika yang Kusebut adalah Kamu








Oleh : Ami Hamidah

Setelah rindu puas menghujam dada
Kuputuskan untuk sejenak lupa
Sebab kutahu, tak berhak bagiku
Mereguk rindu yang tak halal ini

Sajak cinta yang berserakan
Terhempas ganasnya badai roman picisan
Tak sengaja kutemukan namamu di antaranya
Bukan kata cinta, diksi atau pun sejenisnya
Tapi bayang iman yang sekilas membius hampanya jiwa
Kamu, yang entah seperti apa rupamu

Kucoba menggulung hamparan waktu
Barangkali aku keliru ketika menghitung rindu
Namun hasilnya tetap sama, hanya dirimu
Aku, perempuan tak sempurna
Miskin ilmu agama juga penuh dosa
Berharap ingin digenapkan
Denganmu, yang seringkali membuat doaku
Sekilas bagai novel cinta


Tasikmalaya, 10 Juni 2017

Picture by Google

Kamis, 08 Juni 2017

TANAH BASAH FEBRUARI











Sejak kapan rindu itu bisa ditakar? Terlebih ditimbang serta membandingkan mana yang lebih dari satu sama lain. Jika kau laki-laki pasti menduga bahwa perasaan perempuan selalu berlebihan. Tapi jika kau perempuan pasti menganggap apa yang dipikirkan oleh laki-laki hanyalah mengharapkan sentuhan. Padahal jika menilik lebih jauh lagi, kau dan dia, sempat bertemu dulu di surga. Mungkin Tuhan sengaja menghapus momen itu sebelum ujud berubah menjadi manusia. Mungkin kau dan dia pernah menyapa, sebelum takdir memisahkan -sebentar- di dunia. Lalu langit berganti setiap hari. Terkadang hujan, mendung atau terik menghiasi. Sedangkan malam beberapa kali disinggahi rintikan. Dingin membekap kegelapan. Bulan menutup dari tanah basah. Sepertinya ia ingin menghabiskan malam dengan kesunyian di sebalik mendung langit kelam.

Daun gugur pertanda musim berganti nama. Kau bertanya pada penduduk langit tentang harapan yang terenggut tanpa balasan keberhasilan. Ya, kau menangis saat itu. Mendekap bantal serta selimut. Menyembunyikan rintihan dalam tangisan. Ceritamu terhenti, doamu mungkin diganti. Tuhan bukan penipu. Yang mengajari tanganmu untuk menengadah lalu segala ucap tak akan dibalas. Bukan, Tuhan tidak pernah mengingkari apa yang diberitahukan-Nya. Tuhan bukan manusia. Dia tidak mungkin membohongi semua takdirmu. Dia berjanji, bukan? Takdir akan diubah menurut doa dan ikhtiar. Pintamu tak akan ditolak, itu jaminan. Jangan lupakan sujudmu. Hanya itu tempat di mana kau berbisik terhadap bumi tapi penduduk langit mengamini.

Rintik hujan mulai mengalun pelan. Ada siksa di sudut hatimu tentang ketidak pastian. Kau tidak menangis, Adam tercipta dari tanah. Tempat menyembunyikan semua resah. Pikiran serta hatimu kokoh untuk mencintai. Sosok masa depan yang rupa serta suara tak sekali pun tergambar. Tuhan memberi pilihan. Mencari atau dicari. Kau memilih mencari, berkelana, menyempurnakan iman. Lupa, bahwa kesendirian tidak akan terbalas dengan pertemuan. Itu hanya fase di mana ayat Tuhan menandakan kita dilahirkan berpasangan. Mencari yang terbaik berbeda dengan memilih yang terbaik. Kau berusaha menghindari kekurangan tapi tak sadar, antara kau dan dia yang dibutuhkan hanya keikhlasan.

Besi kotak berwarna dan hidup itu menampilkan candaan tentang hari kasih sayang sedunia. Berharap hari ke empat belas di bulan kedua Masehi itu menghilang dari peredaran. Aku lupa, kapan persisnya sebuah perasaan itu datang. Karena rasa sayang tidak harus dirayakan pada pertengahan Februari untuk diungkapkan. Biarkan ia menunggu -bukan dalam hitungan bulan-, seperti selimut malam yang menanti datangnya fajar. Biarkan ia mengikuti pola takdir Tuhan, diam-diam bersembunyi lalu hadir saat diri ini dilabeli.

Klaten, di sudut ruangan.  
Picture by Google