Powered By Blogger

Selasa, 23 Januari 2018

SEMANGKOK SOTO












Oleh Nanik Haryanti


Fajar menyisihkan beberapa irisan bawang goreng yang sudah nyaman berenang di mangkoknya. Tidak peduli dengan omelan Sri Purwati yang nyaring terdengar dari dapur. Bahwa dia harus  melahap aja saja masakan yang sudah dibuat olehnya. Tapi tetap saja Fajar tidak memperdulikan. Baginya, irisan bawang goreng itu rasanya pahit. Meskipun Sri Purwati sudah menaburi sedikit perasa instan dan sejumpit garam pada irisan-irisan bawang merah goreng yang dibuatnya. Itu tidak membuat Fajar langsung menyukai pemanis makanan yang satu itu.

Lelaki dua puluh lima tahun yang sekarang masih berstatus pengelana pekerjaan. Selama setahun ini Fajar hanya di rumah membantu Sri Purwati merawat ayam-ayam kampung. Ijasah SMK jurusan teknik listrik harus disimpan di lemari tua milik ibunya. Terakhir, sepatu hitam yang dikenakan oleh Fajar adalah sepatu untuk pekerjaannya sebagai debt collector di sebuah bank swasta. Karirnya cukup bagus, didukung oleh rupa yang menambah semangat nasabah untuk membayar cicilannya di bank. Tidak membuat Fajar betah meniti karir di sana. Dia bosan menagih hutang.

Ayam-ayam kampung milik Sri Purwati tidak lebih dari dua puluhan. Mereka adalah peranakan dari ayam peninggalan almarhum suaminya dulu yang tidak boleh dijual. Dua ayam jantan dan tiga ayam betina menghasilkan belasan anak ayam yang kini sudah bisa dinikmati dagingnya. Sri Purwati dengan telaten merawat warisan suaminya. Pesan terakhir dari suami yang selalu diingatnya, “jangan dijual, ayam-ayam ini bisa mencukupi biaya sekolah anak-anak nanti. Jangan pernah dijual.”

Kata-kata yang selalu terngiang saat semangatnya berjuang mencukupi kebutuhan keluarga sudah menipis. Sri Purwati bukan perempuan hebat dengan banyak keahlian. Dia pintar meracik bumbu dan mengolah berbagai masakan. Tapi tidak tahu harus dikemanakan semua hasil olahan yang sering dipuji enak oleh anak-anaknya itu. Hanya untuk perut keluarganya, pikirnya saat itu. Sampai nasib membawanya bertemu dengan orang-orang baik.

“Ibu ... sore ini pesanan diantar ke mana?” seru Fajar.

Sri Purwati tidak menyahut. Fajar membawa mangkok yang sudah habis isinya tadi ke dapur. Meletakkan di ember kecil dekat kran wudhu lalu menghampiri ibunya yang sedang duduk di samping pintu dapur.

Tangan kanan Sri Purwati terampil mencabuti satu per satu bulu ayam kampung yang sudah mati. Disiramkannya air panas dari ceret ke ayam itu tadi dengan tangan kirinya. Sore ini pesanannya harus segera dihantarkan. Sudah pukul dua siang, sedangkan sayuran belum dipotong dan direbus. “Fajar, Ibu boleh minta tolong?”

Fajar yang duduk jongkok di samping Ibunya bersiap ingin membantu membersihkan bulu-bulu ayam langsung mengangguk. Menunggu suara ibunya. “Bantuan apa, Bu? Jangan mengulek lagi. Itu pekerjaan perempuan.”

Sri Purwati mengulas senyum mengingat kejadian beberapa bulan lalu. Waktu itu dia kesiangan. Jam empat pagi baru bangun sedangkan bumbu belum disiapkan sejak sore. Ayam kampung sudah direbus  semalam. Tapi segala macam bumbu belum disiapkan. Terpaksa membangunkan Fajar, anak lelaki satu-satunya. Kedua anak perempuannya masih kecil-kecil, usia sekolah dasar. Dengan gontai Fajar mengupas bumbu yang sudah diperhitungkan Sri Purwati satu per satu. Sesekali dia menguap. Semenjak ibunya memutuskan untuk berjualan. Fajar tidak pernah membantu ibunya di dapur. Tapi hari itu Fajar melihat sendiri bagaimana sosok perempuan yang sudah melahirkannya itu berjuang mencari lembaran rupiah sendiri tanpa seorang suami. Sosok yang sering dipanggil ‘janda’ oleh orang-orang yang tidak mengenal dekat kehidupannya. “Aku kuat bukan rapuh. Aku perempuan dengan amanah tiga anak dari suamiku. Aku tidak akan pernah lari dari kenyataan itu,” ucap Sri Purwati saat orang-orang sangsi dengan kehidupannya setelah suaminya meninggal.

“Bantu Ibu mengupas bawang merah lalu diiris-iris. Ibu harus membuatkan bumbu untuk ayam ini.”
Fajar menatap bawang merah yang ada di besek [1] lama. Sambil mengingat kalimat tadi, ucapan pada bawang goreng yang disisihkannya. “Dasar pemanis tidak bermanfaat.”
========
Sri Purwati menghitung lembaran uang yang diterimanya setelah acara berakhir. Kuah di dandang tidak tersisa. Suwiran ayam, toge, irisan kubis, irisan bawang goreng yang dicampur sedikit irisan sledri ludes. Fajar menggosok luaran dandang  dengan hati-hati agar tak lecet. Itu dandang baru. Dibeli ibu dua bulan lalu. Kredit dari salah satu pedagang pasar kenalannya.

“Ibu belum makan,” ujar Fajar yang melihat ibunya duduk di dingklek [2] dekat tungku kayu.  Masih ada beberapa peralatan dapur yang belum dia cuci. Malam sudah semakin larut. Suara ‘ceguk’ dari burung hantu yang bertengger di pohon samping rumah terdengar jelas.

“Tadi Ibu sudah makan di acara tadi. Ada sisa semangkok soto yang tidak diambil. Ibu makan diam-diam,” jawab Sri Purwati sembari merenggangkan otot-otot kakinya, “ibu harus membuat bawang goreng lagi untuk esok. Tadi kamu sudah beli bawang merah kan, Fajar?”
Sri Purwati harus berjualan soto esok hari. Agar lembaran uang yang dihantarkan ke bank cukup untuk angsuran bulan ini.

“Fajar sudah menggorengnya, Bu. Sudah Fajar simpan di lemari.”

“Gak gosong kan, Fajar?” Sri Purwati panik berlari, membuka lemari tempat menyimpan lauk pauk. Bawang goreng penuh berada di dalam toples kaca. Warnanya cantik seperti senja yang hampir tenggelam.

Sri Purwati langsung lega. Selama ini Fajar tidak pernah mau menyentuh bawang merah dengan alasan hanya mengotori penampilan semangkok soto saja. “Bu, ternyata membuat bawang goreng itu tidak semudah menyisihkannya.”

Fajar tersenyum lebar, “Apa aku mengembangkan usaha Ibu saja ya dari pada menjadi orang kantoran? Soto buatan ibu kan tidak ada duanya.”
Ah, Sri Purwati tidak bisa berkata apa-apa lagi. Doanya terkabul. Doa yang dia haturkan ke Illahi sejak Fajar tidak semangat bekerja lagi. Kini diganti dengan takdir yang lebih baik.

Klaten, 15 Januari 2018

Notes;
[1] Besek : kardus makanan  yang terbuat dari anyaman bambu.

[2] Dingklek : kursi duduk kecil yang terbuat dari kayu.

BUNGA PEPAYA




Ratna menggeleng untuk ke sekian kalinya. Kali ini keputusannya sudah bulat untuk menjawab teka-teki yang selama ini membutuhkan jawaban. Dia memang benar-benar tidak bisa mentolerir beberapa kekurangan yang ada pada diri Aji. Baginya, fase ini adalah fase yang tidak bisa dijadikan permainan. Ratna tidak peduli dengan segala julukan orang untuknya. Apa pun itu dia akan terima. Karena prinsipnya hanya satu; memiliki suami yang sesuai dengan kriterianya. Karena ini hidupnya, perjalanannya. Bukan milik orang lain.
=====================
Uap mengepul dari secangkir teh yang baru saja disajikan oleh Tugiyem. Ketela rebus menemani secangkir teh di meja ruang tamu rumahnya. Pagi masih berkabut. Di halaman, embun-embun masih tertidur, menunggu fajar membangunkan. Tanah sedikit becek sisa hujan sebentar semalam. Pohon mangga sedang berbuah musiman. Kali ini buahnya lumayan banyak untuk dijual. Pintu depan rumah sudah terbuka semenjak lepas sholat subuh tadi. Menunggu kepulangan putri tertua di rumah itu. Putri kebanggaan Tugiyem.

Sudah pukul setengah tujuh tapi jalanan desa masih sepi. Hanya ada ayam dan anak-anaknya yang sedang mencari makan. Kabut masih tertinggal tipis di atas pepohonan. Dari ufuk timur mendung menggantung. Tugiyem berjalan melewati halaman lalu berdiri di pinggir jalan.  Menengok ke kanan serta kiri mencari suara mobil. Anaknya seharusnya sudah sampai. Tapi lengangnya jalan menjawab semua rasa penasarannya. Tugiyem gelisah, berharap tidak ada satu halangan pun di tengah jalan.

“Sebentar lagi hujan, Mak. Menunggu di emperan saja. Mungkin di jalan terjebak macet.”

Tugiman menggandeng Tugiyem untuk duduk di emperan. Istrinya masih gelisah. Sangat terlihat dari raut wajah yang dibalut dengan jilbab merah maroon pemberian menantunya. Tugiyem berdiri. Berjalan pelan-pelan ke halaman rumah mereka yang sebagian becek terisi air hujan.

“Sudah aku bilang, Mak. Tunggu saja di sini. Gerimis,” ujar Tugiman. Tangannya memegang lengan Tugiyem agar tak ke halaman.

Seorang ibu yang sudah rindu kepalang dengan anak semata wayangnya. Hanya bisa menahan sesak di dada saat masa tuanya tidak ada yang menemani. Gerimis turun perlahan. Halaman kembali disinggahi rintikan.


Sepasang suami istri itu memasuki rumah mereka dengan wajah menunduk. Ini sudah hari ketiga mereka menunggu kehadiran putri dan menantunya. Gerimis berubah menjadi guyuran. Deras, seperti netra Tugiyem beberapa hari ini. Rambut putihnya sudah semakin banyak. Bahkan suaminya, Tugiman, tidak ada sehelai pun yang tidak beruban. Dia memikirkan masa tuanya sekarang. Ketakutan jika di masa tua, mereka tidak bisa hidup bersama anak semata wayangnya.

“Telpon Lek Kardi, Pak. Apakah sudah ditelpon sama Ratna belum,” pinta Tugiyem. Tugiman mengeluarkan handphone pemberian anaknya. Mencari nomor telepon sopir mobil menantunya.

Mereka terduduk di ruang tamu. Teh sudah dingin begitu juga dengan ketelanya. Rumah mereka sangat sepi. Hanya ada perabotan rumah beberapa. Termasuk kursi rotan yang mereka duduki sekarang. Saksi mati mereka mengasuh putri semata wayangnya.

“Tidak diangkat, Mak. Mungkin lagi di perjalanan. Mamak yang sabar. Kan Genduk sudah bilang mau pulang minggu ini. Menjenguk kita tapi harinya memang belum tahu. Menunggu ijin dari Septian.” Tugiman lah yang terlihat tegar menghadapi situasi ini.

Tugiyem beristighfar. Mengambil teh yang sudah dingin dan menyeruputnya. “Pak, jaman kita dulu, menikah itu tidak perlu macam-macam syaratnya.”

Tugiman tersenyum, “apa iya? Mamak dulu memberi syarat agar bapak setelah menikah kerja banting tulang tanpa kenal lelah. Itu juga syarat.”

“Pak, itu kan gara-gara kita masih numpang di rumah simbok. Mamak gak nyaman masak sama mandi jadi satu,” kilah Tugiyem, “itu juga karena anggota keluarga bapak banyak di rumah simbok.”

Senyum hadir di tengah-tengah perbincangan mereka. Mengingat nostalgia masa lalu yang selalu memancing tawa. Tapi itu kenangan. Penuh dengan perjuangan tapi terobati saat melihat senyum serta tangis putri semata wayangnya. “Ada telepon dari Kardi, Mak. Sebentar bapak jawab.”

Tugiman berdiri untuk mencari sinyal. Suara Kardi terdengar jelas dari sana. Hanya sebentar, belum ada satu menit Kardi menutup obrolan.

“Ada apa, Pak? Mereka sudah sampai mana?” tanya Tugiyem antusias. Tugiman mencoba tersenyum.

“Mak ... kita ke ladang saja hari ini. Memanen cabai yang sudah memerah,” jelas Tugiman sembari menatap teduh raut istrinya yang menahan tangis. “Mungkin bulan depan Ratna bisa ke sini. Mak sekarang ganti baju, sarapan dan kita menunggu hujan reda lalu ke ladang.”

Tugiyem menangis. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan untuk menunjukkan rasa sesak di dadanya selain menangis? Jemari Tugiman mengusap lembut punggung istri tercintanya. Memberi kekuatan bahwa hal ini dihadapi bersama. “Seandainya Ratna menikah dengan Aji, Pak. Lelaki desa pilihan kita. Kita tidak perlu menghitung hari untuk bertemu anak kandung sendiri,” gumam Tugiyem.

Oseng bunga pepaya dan mendoan goreng tersaji di meja makan. Masih utuh, belum terambil sedikit pun.


Klaten, 17 Januari 2017
Oleh Nanik Haryanti

Sabtu, 04 November 2017

MELATI TAK WANGI







"Ada apa, Mbok? Fitri baru saja selesai sholat." Lipatan mukena dia letakkan di meja rias samping ranjang. Lalu memandang ke cermin sebentar, menyisir rambut dan kembali menggunakan kerudung.

Fitri mendekati Simbok yang tengah memegang amplop di tangan kanan. Teriakan Simbok saat Fitri sholat sedikit membuatnya risau. Sudah sepuh, karena sakit gula bertahun-tahun, kaki Simbok harus dioperasi dan kini cara berjalannya tidak normal. Sedapat mungkin, Fitri tidak boleh lengah menemani ibu angkatnya.

"Tadi ada undangan nikah anaknya Lek Warsino. Penyebar undangan si Pardi. Dia lupa, dan baru hari ini ingat. Ternyata resepsinya besok. Jadi hari ini Simbok harus nyumbang, Nduk."

Penjelasan Simbok menjawab kosongnya amplop yang dibawa. Fitri beranjak dari tempat duduk samping ibunya. Membuka lemari, mencari-cari benda di bawah lipatan baju. Dompet berwarna merah tua, pemberian seseorang tiga tahun lalu masih dia jaga dengan baik. Hadiah pertama dan terakhir.

"Simbok mau isi amlop itu berapa?" Tanya Fitri saat membuka dompet.

"Warsino belum pernah memberi sumbangan ke Simbok, jadi sepantasnya saja. Dia sekarang jadi orang kaya," jelasnya.

"Mbok, Lek Warsino begitu baik sama kita. Sering menolong saat kita kesusahan. Tidak apa-apa kalau sumbangan ini dilebihkan. Sekadar balas budi." Fitri mengisi amplop kosong itu dengan lembaran rupiah berwarna biru dua.

"Ini terlalu banyak," tolak Simbok.

"Tidak sebanyak yang sudah dikeluarkan Lek Warsino untuk kita, Mbok," balas Fitri.

***

Masih pukul empat lebih, suasana desa masih ramai lalu lalang orang. Hewan peliharaan; bebek, ayam, kambing mulai dikandangkan. Bapak-bapak sudah membersihkan diri dari aktifitas sawah. Anak-anak masih sibuk mengeja huruf hijaiyah di masjid. Warung-warung makanan ramai dengan pembeli. Satu dua mobil bak terbuka menyeterika jalan dengan ke empat rodanya. Mengambil hasil panen; padi berkarung-karung besar. Siap digiling lalu dijemur.

"Mbak Fitri mau ke mana?" sapa salah satu tetangga.

"Mau njagong tempat Lek Warsino. Keburu maghrib." Mulai menghidupkan motor matic, melirik spion kiri, memantapkan riasan.

"Mbak Fitri sangat legowo. Kalau aku mungkin tidak sudi datang." Tetangga Fitri berceloteh tentang kisahnya.

"Sudah, Budhe. Ini jalan-Nya." Senyum terpaksa Fitri menutup perbincangan. Luka dan kisah itu, tak mungkin terus dia paksa kembali terjadi.

***

Kisah kasih yang dia lalui empat tahun tak mungkin bisa hilang begitu saja. Cinta pertama adalah yang paling membekas di hati. Sekuat apapun disuruh pergi, rasa itu adalah kenangan awal mula dalam mengenal perasaan.

Fitri sangat hapal jalan ini. Menyusuri jembatan tua, lurus dua ratus meter lalu belok kiri. Menikmati pematang sawah saat senja, dia ingat janji yang terucap tiga setengah tahun lalu di jalan ini.

"Kita pasti sukses, Fitri. Tiga tahun merantau, pasti cukup untuk modal menikah. Walimahan biasa saja, sederhana."

Masa silam. Sekali pun usang, berdebu bahkan terbuang. Masih saja mereka melekat di alam pikiran. Setiap saat bisa keluar dan mendobrak kenyataan.

"Semua omong kosong, kan, Mas." Fitri membalas putaran kenangan itu dengan lirihan. Ya, rencana manusia dengan Sang Pencipta terkadang tak selalu sama. Bisa jadi, apa yang hamba-Nya pinta, bukan hal baik untuk dikabulkan segera. Tidak ada doa yang tertolak. Tuhan mendengar dan menerima jeritan hamba-Nya. Takdir sudah ditetapkan, tapi Tuhan tidak memaksa kita untuk diam tanpa berusaha.

Motor Fitri memasuki gapura pembatas desa. Cat dan hiasan baru. Desa tetangga memang terlihat lebih menyenangkan. Rumah bercat warna-warni, taman penuh; anggrek, mawar dan rumput jepang, kolam ikan, dan garasi mobil ada di setiap halaman.

Harta memang bisa merubah tabiat manusia. Bekerja keras menumpuk materi untuk bersaing membanggakan diri. Siapa yang paling kaya, adalah dia yang paling indah rumahnya.

Memasuki gang ketiga dari jalan utama desa. Fitri berhenti sejenak melihat tenda berwarna kuning emas dengan pilar besi yang terpasang di tengah jalan. Lagu keroncong mengalun merdu, lirih. Kakinya enggan kembali masuk ke wilayah masa lalu. Matanya kembali mengingat semua adegan menyenangkan itu.

Tapi Fitri harus menghadapi kenyataan. Sepahit apapun, dia harus menerima dan legowo melihat keadaan. Bukan hanya dia yang terluka, Simboknya dan keluarga yang selama ini mau menerima statusnya sebagai anak pungut tak luput dari rasa kecewa. Dendam tidak boleh dipelihara, luka menganga itu sebentar lagi akan menutup oleh waktu. Olesi saja dengan kesabaran, pertebal pendengaran dari ocehan orang.

“Bagaimana kabarmu, Nduk? Semakin kurus tapi tambah ayu.” Wajah keriput itu tersenyum sumringah. Menatap Fitri dengan berkaca-kaca. Gadis kecil yang selama ini dia rawat, mengajarinya membaca huruf-huruf hijaiyah kini sudah bisa belajar menerima kekalahan. “Maafkan, Simbah ya, Nduk. Seandainya suara Simbah masih didengar sama Seno, tidak mungkin kamu duduk sebagai tamu hari ini. Kamu pasti duduk di kursi sana.” Mata Simbah memandang kursi pelaminan, “dan tidak perlu mendengar celotehan tetangga.”


“Kenapa Simbah yang malah meminta maaf? Sudah, tidak perlu dipermasalah lagi. Aku sudah menerima semua ini. Bukan jodoh dan aku tidak perlu mendengarkan omongan tetangga. Mending mendengarkan omongan Simbok di rumah yang setiap hari mengeluh tentang berita artis di televisi.”

Fitri tidak ingin menceburkan diri ke dalam sangkaan orang. Lebih baik berbenah diri, melupakan hal yang tak seharusnya dipikirkan. Dia ingin melepaskan seluruh luka itu, membiarkannya keluar bebas menghirup udara keikhlasan. “Pasti Allah sudah menyimpan seorang lelaki untuk Fitri juga, dan itu bukan Mas Seno.”

Seno, pemuda dua puluh tujuh tahun itu adalah cinta pertamanya. Fitri tidak begitu paham kenapa dia bisa jatuh hati pada pemuda jangkung itu. Mereka satu sekolah saat SMA dulu. Berangkat sekolah bersama, saling membantu tugas sekolah. Seno satu tahun di atas Fitri. Sama-sama terlahir dari keluarga sederhana, membuat mereka berdua  mimpi bersama. Seno memiliki keinginan pergi ke luar negeri. Menjemput lembaran rupiah di negeri sakura. Kemiskinan mengubur keinginannya untuk kuliah. Ada dua adik perempuan yang masih harus dibiayai, masih ada gubug tua yang harus dia benahi. Egois, mengambil beasiswa lalu melenggang menjadi mahasiswa tak ubahnya menjilat sendiri air ludah yang sudah dimuntahkan dan jatuh di tanah kering. Begitu juga keinginannya untuk mengarungi hidup berdua bersama Fitri. Seno mencintai Fitri, sejak dia masih remaja.

Fitri, gadis kecil tangguh itu dirawat oleh sanak saudara ibunya. Ayahnya meninggal karena bencana longsor beberapa bulan sebelum dia dilahirkan. Sedangkan ibunya sendiri, menghilang entah ke mana setahun setelah Fitri dilahirkan. Pamit, ingin merantau dan menabung untuk membesarkan Fitri dijadikan alasan. Tapi setelah bertahun, belasan tahun dan hingga Fitri bisa menyukupi kebutuhannya sendiri. Kaki sang ibu kandung tak pernah lagi datang menjenguknya. Fitri yang saat itu baru belajar berjalan, menangis sepanjang malam. Air susunya hilang, dekapan hangat itu terlepas. Tapi itu bukan keinginannya. Takdir hidup yang mengharuskan dia menjadi anak pungut. Merasa dibuang oleh ibu kandungnya sendiri.

Tidak ada pengakuan dari mulut mereka. Rasa itu terjadi begitu saja. Seno menyukai kesederhanaan Fitri. Cara perempuan mata coklat itu menghadapi kejamnya hidup sebagai anak pungut. Kondisi orang tua yang menjaga Fitri sejak balita pun di bawah garis sederhana. Rumah kecil dengan dinding bambu sebagai penghalang angin. Lantai basah karena rumah dekat dengan aliran sungai. Genting satu dua loncat dari tempat seharusnya. Ibu angkat Fitri, yang dipanggilnya Simbok, adalah seorang perawan tua. Simbok tidak ingin menikah karena cacat fisik yang dia miliki. Simbok mengambil keputusan menjaga Fitri, sebagai teman hidup dan semangatnya dalam mengais rejeki. Dia bekerja sebagai tukang buruh apa saja. Ke sawah, ladang, kebun atau rumah. Fisik sebagai wanita lah yang membuat Simbok mengubur niat ingin menikah. Tidak akan ada yang mau denganku, begitu pikir Simbok.

“Fitri ada oleh-oleh buat Simbah. Kemarin sebelum naik pesawat Fitri beli ini buat Simbah. Fitri sudah janji dulu, akan mengganti kalung Simbah yang Fitri pinjam buat uang pegangan selama di Malaysia.”

“Simbah sudah ikhlas, buat apa dikembalikan, Nduk?”

“Mbah,” Fitri menyelipkan kotak kecil itu dijemari perempuan berusia delapan puluh tahun itu, “anggap saja sebagai hadiah atau oleh-oleh. Fitri sudah janji dulu.”

Hanya Simbah Niti yang menyapa kedatangan Fitri. Baik Seno, lelaki yang pernah berjanji akan menikahinya sepulang dari perantauan tak berani berhadapan dengannya. Atau Ayah dan Ibu Seno sengaja menghindar, melihat kedatangan Fitri pun tidak.

Fitri hanya perempuan biasa, pasti juga merasakan sakit ketika laki-laki yang berjanji akan mengijab namanya lari dari kata-kata yang sudah dia buat sendiri. Fitri tidak ingin meminta pertanggungjawaban. Biarkan semua dosa, luka serta akibat dari kisah masa lalunya dia dekap sendiri. Jodoh tak jodoh bukan sebuah hal yang harus ditangisi. Kesuciannya memang sudah layu bahkan tercabut tapi hidupnya harus tetap tumbuh, tegak berdiri menantang badai dan hujan ujian yang kini menghadang perjuangan.

~ END ~







TIPS MOVE ON ALA GADIS BERCADAR;
  1. Menangis sampai lelah sendiri
  2. Menerima semua hal yang terjadi. kalau tidak bisa menerima, buang saja.
  3. Mudah saja, menulis! Tulis semua hal yang menyakitkan. Tulis nama dia, buat nama dia dalam sebuah cerita. Abadikan namanya di tulisanmu!




Senin, 28 Agustus 2017

CV TA'ARUF













Bismillahirrohmannirrohim

BIODATA DIRI PRIBADI


Nama Lengkap :
Nama Panggilan :
Email :
Facebook :
Twitter :
Blog :
Gmail :
TTL :
Suku :
Alamat asal :
Alamat domisili :
Nomor Handphone :
Pekerjaan :
Ciri Fisik :
1. Berat badan :
2. Tinggi badan :
3. Warna kulit :
4. Berkacamata :

Riwayat Pendidikan :
1. SD : ........................... lulus tahun
2. SMP : ....................... lulus tahun
3. SMA : ....................... lulus tahun
4. PT : ........................... lulus tahun

Riwayat Pekerjaan :
Riwayat Organisasi :
Penyakit yang pernah di derita :

Data Ayah :
1. Nama Ayah :
2. Agama :
3. Organisasi :
4. Pekerjaan :
5. Alamat :
6. Sikap terhadap dakwah :
7. Data saudara ayah :

Data Ibu :
1. Nama Ibu :
2. Agama :
3. Organisasi :
4. Pekerjaan :
5. Alamat :
6. Sikap terhadap dakwah :
7. Data saudara ibu :

Data saudara :

Izin untuk menikah :



SEJENAK TENTANG DIRIKU


1. Kriteria calon suami/istri yang sangat saya harapkan :

2. Karakter dan kepribadian diri

a. Pendapat dari beberapa teman dan sahabat:

b. Menurut diri saya pribadi:

3. Catatan aktifitas dakwah

4. Rencana Masa depan

- Penataan ekonomi :

- Pilihan pekerjaan :

- Tempat tinggal :

- Proyeksi dakwah :


5. Deskripsi keluarga :

- Dari keluarga ayah :

- Dari keluarga ibu :

TENTANG AKU …

………………………………… abcdegfghijklm







Ini contoh cv ta'aruf, tidak harus sama persis. Karena contoh dari Murobbi sudah saya rombak sesuai kebutuhan saya sendiri. Tapi bisa dijadikan contoh dalam memulai sebuah niat.



Klaten, 21 Juni 2016

ALTAR PERJANJIAN



Aku melihat pantulanku di cermin. Riasan wajah tak ada cela; bibir, alis, bulu mata, kelopak, pipi dihias dengan warna selaras kulit muka. Rambut yang digulung rapi, membentuk sebuah sudut di bagian belakang untuk meletakkan hiasan kecil. Sengaja, merapikan seluruh helai, agar sempurna masuk ke dalam gulungan. Kalung terpasang, dengan mata tetes embun. Gaun putih dirapikan ulang. Bahu terlihat jelas. Menggiurkan, kata seseorang. Disematkan sepasang anting antik ke telinga kanan dan kiri. Memutar badan, melihat bagian belakang gaun. Tercetak sempurna. Bidadari surga pun, mungkin cemburu dengan kecantikanku pagi ini.

Ada yang mengetuk pintu. Memberi kabar bahwa semua sudah siap. Aku mulai gugup. Rasa membuncah di dada semakin tidak tertahan. Untuk pertama kalinya, berada di depan banyak orang. Bukankah ini momen bahagia? Aku akan bertemu dengannya. Merajut sebuah kisah yang abadi. Perjalanan dua insan, memendam kerinduan yang lama tertahan dalam penantian.

Melewati lorong. Aku mendengar bisik-bisik tentang acara hari ini. Bunga-bunga putih sengaja dipasang, menyambut kedatangan keluarga. Memang itu permintaanku. Pintu altar dibuka. Orang-orang diam. Kutatap altar, Bapa ada di sana. Di belakangnya, patung Yesus tertunduk dalam acara pengorbanan. Gelas-gelas perak dan emas tertata rapi. Lilin-lilin menyala, padahal ini pagi.

Aku berhenti sebentar. Ada yang memelukku, dia terisak. Mungkin terharu, karena hari ini hari bahagia. Aku melihat wajah Bunda Maria di sebelah sudut kanan gereja. Teduh, ingin sekali memiliki raut sekasih Bunda.

Hening, dingin mulai merayapi tubuh. Sekarang, aku tepat berada di altar. Di depan tempat Bapa berdiri. Kedua bola mata birunya basah. Apakah Bapa juga terharu?

“Semua akan kembali ke pangkuan Sang Kasih. Sekarang atau nanti, kita adalah umat-Nya yang dikasihi.”

Nyanyian melantun syahdu. Mendung mulai kurasa. Semakin gelap. Aku merasakan ketenangan. Suara-suara tangisan itu, menjadi doa untukku. Kekasih, kita bangun sebuah istana di surga-Nya. Aku mengikutimu. Berkumpul kembali dalam ladang kasih-Nya.

Klaten, 14 November 2016

Kamis, 20 Juli 2017

AIR MATA ROSULULLOH












Diriwayatkan dari Anas ra,” Rosululloh SAW bersabda, tidaklah seorang muslim, saat kematian tiga anaknya yang belum baligh, kecuali Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga berkat kasih sayang-Nya kepada anak-anaknya tersebut.” (H.R. Bukhori Muslim)
                                                               ***
Anak adalah titipan. Mereka juga bukti  kasih sayang Allah untuk hamba-Nya. Anak juga merupakan sebuah ujian. Yang kelak akan menjadi tanggungan di hari perhitungan nanti. Kehilangan bukanlah hal yang diinginkan dari setiap makhluk yang bernama manusia. Allah sudah menetapkan takdir setiap hamba yang Dia kehendaki. Semua sudah tercatat sempurna di Lauhul Mahfudz.
Wajah Parjiyem terlihat sayu, tetesan air matanya sudah tidak terhitung lagi.Tidak terisak, diam menatap sebujur tubuh kaku yang terbaring di atas meja.Orang-orang yang berada di ruangan itu melafalkan ayat-ayat Yasin, mereka saling menunduk terdiam. Sedangkan yang lain sibuk merenda hiasan untuk rumah terakhir anak Parjiyem, bayi yang belum genap satu tahun itu.
Para tetangga tahu, mereka tidak bisa berbuat apapun.Bahkan menghibur.Mereka datang, duduk disamping Parjiyem dan mengulas senyum.Ada yang menangis terisak, tidak tega dengan takdir yang menimpa tetangga baik mereka.Kehilangan putra untuk yang ketiga kalinya.
“Sabar ya, Par.Aku ora isoh ngomong opo-opo. Sabar … Lek Par,” ucap seorang pelayat yang sedang memeluk Parjiyem.
Terkulai duduk lemas menatap tubuh kaku putra keempatnya.Matanya kosong, bibirnya terkunci.Sapaan takziah dari para pelayat pun dia abaikan.
Sedangkan sang suami terlihat tegar, dari luar. Batinnya juga tersayat perih. Mengalami ujian yang sama untuk ketiga kalinya. Kehilangan sosok buah hati yang kelak bisa ia pandang di masa depan. Supadi sibuk menyalami pelayat pria. Dan terkadang berjalan kesana kemari, menengok sang istri yang terlihat tak berdaya.
“Gusti Allah pengen kowe mulyo ning surgo, Padi,” ujar salah satu pelayat yang sedang memeluk Supadi erat, ”InshaAllah, mereka sudah meminta rumah kepada Allah untuk kalian.”
Supadi hanya menjawab dengan senyuman.Tidak bisa berkata apapun lagi.Goresan luka yang dia rasakan sebagai seorang suami sekaligus ayah bagi keempat putranya semakin menganga. Putra pertama, gadis kecil yang saat itu baru memasuki umur lima tahun, meninggal karena demam tinggi. Putra kedua, yang masih tersimpan aman di dalam kandungan, telah diminta oleh Pemiliknya sebelum dilahirkan. Putra keempat, bayi yang belum dikuburkan, meninggal dalam usia yang belum genap satu tahun, lahir saat Ramadhan dan meninggal sepuluh hari sebelum satu Syawal.
Tangis dan duka mereka, tercatat sebagai penghilang rasa panas saat hari kiamat nanti.Tinggalah putra keempat mereka, Slamet Rahayu.Yang Allah titipkan kepada Supadi dan Parjiyem. Sebagai pelipur lara dalam mengarungi kehidupan.
***
“Ini dibaca apa, Le?”
Tanya Parjiyem sedikit membentak saat mengajari Slamet belajar membaca.Slamet sudah kelas tiga sekolah dasar.Tapi belum mampu membaca ataupun menulis.Entah, orang tuanya juga bingung.Saat Taman Kanak-kanak, Slamet terlihat biasa dan normal.Tapi setelah memasuki bangku sekolah dasar, tidak ada satupun pelajaran yang dia ingat.Membaca angka pun, Slamet tidak bisa.
Sulit untuk menjelaskan keadaan yang terjadi pada Slamet.Kedua orang tuanya bukanlah orang yang mengeyam pendidikan tinggi. Sebatas Sekolah Dasar, niat mengarungi kehidupan berkeluarga untuk mencari keberkahan. Mendidik anak semata wayang, menjadi penghibur saat usia senja.

Hingga Slamet duduk di kelas lima Sekolah Dasar. Tidak ada satupun kata yang bisa ia rangkai di atas kertas. Sang Guru memindahkan Slamet ke kelas yang lebih tinggi, hanya karena rasa segan dan kasihan. Takut membayangkan cemoohan para tetangga atas apa yang dialami oleh buah hati Supadi dan Parjiyem.Ketidak mampuan dalam mengikuti pelajaran, adalah bukti kegagalan dari didikan orang tua.
“Gimana kamu besar nanti, Le, kalau nulis sama baca saja tidak bisa!”Supadi sudah hilang kesabaran dalam menghadapi kekurangan anak semata wayangnya. Bahkan untuk meniru tulisan yang ada di lembaran buku tugas sekolah saja, Slamet sama sekali tidak mampu.
Slamet hanya diam, dia tahu sang ayah marah. Tapi entah, setiap kali sang ayah emosi, Slamet sama sekali tidak berani menatap wajah sang pelindungnya. Dia memilih untuk menunduk, sama sekali tidak tahu, kenapa harus pintar membaca dan menulis. Dalam dunianya, dunia suka bermain. Menghabiskan waktu dengan sepeda atau bermain dengan anak-anak yang lain.
Seluruh keluarga besar dikumpulkan, membahas nasib cucu laki-laki satu-satunya dalam keturunan mereka.Ya, Slamet Rahayu adalah satu-satunya cucu laki-laki di keluarga besar Supadi.Cucu yang sangat diandalkan. Tapi Tuhan mempunyai rencana lain, Slamet berbeda, dia istimewa.
“Aku ingin menyarankan sesuatu, Lek,” ujar sang ponakan, Nanik. Cucu tertua di keluarga mereka.
“Kemarin, aku meminta saran ke semua teman di kampus.Maaf, sebelumnya aku tidak meminta ijin dulu ke keluarga.Ini masalah yang tidak bisa dianggap remeh, Lek.Slamet memiliki keistimewaan. Dia berbeda, dan kita juga harus memiliki cara yang tidak sama dalam mendidiknya.”
Nanik berusaha untuk menjelaskan keadaan putra Supadi ke semua anggota keluarga.Berat, menerima kekurangan salah satu anggota keluarga mereka.
“Jadi, maksudmu, Slamet ini idiot?” tanya salah satu anggota keluarga.
Nanik tidak lantas menjawab, dia tidak sampai hati untuk menyandangkan nama ‘idiot’ kepada adik laki-lakinya.
“Slamet hanya berbeda, dia bukan seperti itu,” jawab Nanik, melihat ke arah sang adik laki-laki semata wayangnya. Yang dari tadi tidak berani mengangkat muka.
“Slamet istimewa, dia adalah hadiah dari Allah untuk melengkapi kesabaran dalam keluarga kita.”
Masalah demi masalah datang tanpa henti, hanya berjarak satu tahun setelah keluarga menerima keadaan Slamet, satu demi satu anggota tertua dalam keluarga Supadi kembali ke pangkuan Illahi. Ayah dari Supadi, meninggal dalam masa tuanya,sedangkan sang mertua perempuan, ibu dari Parjiyem istrinya, juga mendadak pergi untuk selamanya. Inilah ujian yang membuat Parjiyem rubuh, kekuatan yang ia bangun selama ini ikut lebur bersama jasad sang Ibunda.
“Apa salahku, Mas?” tanya sang istri kepada Supadi.
Ujian tanpa henti terus mengikis dinding kesabarannya.Kematian serta kehilangan selalu menjadi nyanyian dalam mengarungi kehidupan mereka.
“Mungkin Allah benar-benar menyayangi kita, Par.” Sang suami berusaha tegar di depan sang istri.
Berusaha sebenarnya, tersenyum disaat kondisi sang istri benar-benar jatuh. Menata kembali pecahan senyuman yang dulu mereka rencanakan saat mengawali mahligai pernikahan. Allah, tidak akan membebani sebuah takdir yang mana akan memberatkan hamba-Nya.
Keluarga mereka, mulai berbenah kembali. Pernikahan selama dua puluh lima tahun, kehilangan tiga buah hati mereka, menerima dengan lapang anak istimewa yang Allah titipkan. Ikhlas dengan kehilangan, mengobati luka di hati dengan berbagi senyuman.Merasakan kuatnya ikatan persaudaraan, menyambung kembali ikatan kebahagiaan dengan sabar. Bahwa selama hidup di dunia, ujian akan selalu datang menerpa. Tidak mengenal waktu atau usia.
Slamet Rahayu sudah terbiasa sekolah di Sekolah Luar Biasa.Sekolah dengan sistem pembelajaran khusus bagi anak-anak yang telah Allah istimewakan.Meskipun jauh, Slamet terbiasa berangkat dan pulang dengan menaiki sepeda. Risau sebenarnya, hati kedua orang tua Slamet jika sang anak berangkat dengan sepeda sendiri. Jaraknya jauh, sekitar sepuluh kilometer.
“Mak, besok aku ikut lomba lari jarak jauh,” cerita Slamet kepada Ibunya.
Setiap anak memiliki keistimewaan yang berbeda-beda. Tidak ada yang sama, meskipun lahir dari satu rahim. Allah sudah menetapkan, semua terperinci dalam kitab Lauhul Mahfudz-Nya.Tertata, manusia sudah disiapkan skenario hidup terbaik.Allah adalah Sang Sutradara.Takdir mampu diubah, jika manusia juga mau berubah.
“Wah, Slamet sudah SMP sekarang?” tanya Bulek Welas, adik dari Supadi yang baru datang dari Semarang.
“Iyo, lek.” jawab Slamet, “Oh, yo Lek, kemarin aku menang juara lomba lari jarak jauh, ini hadiahnya.”
Slamet menunjukkan sebuah piagam dan kalung yang sangat ia banggakan. Kemenangan pertama dalam hidupnya, bisa memberi rasa bangga untuk ibunda tercinta.Tentu bukan kebanggaan dalam akademik.Mengingat sampai sekarang buah hati mereka tidak mampu melafalkan satu pun huruf yang tertulis di buku.
“Hebat, kamu Le, sini Bulek kasih hadiah.”
Pemberian hadiah untuk sebuah keberhasilan meskipun kecil adalah cara terbaik menunjukkan rasa bangga. Perhatian dan kasih sayang, sangat diperlukan dalam menambal goresan kesedihan yang telah terjadi.Hidup adalah tempatnya ujian.Tapi tali kekeluargaan tetap di utamakan.
“Met, Adzan ….”
Slamet bergegas beranjak dari depan televisi untuk pergi ke masjid. Keistimewaan tidak mengurangi caranya dalam menjemput panggilan Kalam. Ilmu sekolah mungkin tidak akan pernah ia dapatkan, tapi Allah memberi kemudahan dalam mengarungi indahnya meniti keta’atan dalam kekurangan.
Semua anak istimewa. Meskipun ia terlahir dan diberi rupa yang berbeda.
***

Klaten, di kursi penunggu senja 
Pic; by google